Aku jadi Ibu?
3 Ramadhan 1441 H
Entah kenapa belakangan ini bertarung dengan jiwa-jiwa di dalam sini semakin melelahkan. Aku juga heran kenapa mereka tidak mau membantuku untuk bersikap waras dalam waktu yang agak panjang. Tapi paling tidak, kali ini mereka sepaham dengan pikiran yang terbentuk di kepalaku. Kali ini, tiba-tiba, aku terbesit sesuatu yang sudah lama sekali tidak mampir ke pikiranku, yaitu mampukah aku nanti jadi ibu?
Aku pernah memutuskan untuk menyerah soal ini. Rasanya tidak mungkin. Tidak terbayangkan olehku bagaimana seorang aku, perempuan yang jarang menang dalam perkelahian dengan diriya sendiri, mengemban tugas mulia seorang ibu. Tidak mungkin terjadi. Tapi kemudian seiring berjalannya waktu, aku berpikir kembali tentang kemungkinan tersebut, sebelum akhirnya cenderung kembali menyerah pada keputusan pertamaku.
Namun aku sempat berpikir, jika nanti aku menjadi ibu, aku berharap aku akan mampu mengajari buah hatiku menerima banyak 'gapapa' sejak dini pada kehidupannya. Kemudian, jika nanti mereka mewarisi ketidakstabilan mentalku, aku berharap aku akan jadi manusia pertama yang mereka cari ketika mereka sadar akan hal itu. Aku berharap entah diagnosa pertama dari dokter atau mereka menyadarinya sendiri, aku akan siap ketika mereka ketakutan atas bagaimana mereka harus bersikap dalam menerimanya. Lalu, ketika mereka terbanting dan kalah dalam perkelahian mental mereka sendiri, aku berharap mampu untuk menjadi tempat mereka menyembunyikan diri dan bersiap untuk bangkit kembali.Aku tau pertarungan di dalam diri mereka akan terjadi berulang-ulang dan melelahkan, karenanya aku berharap aku akan selalu siap untuk menerima jatuhnya mereka dan melambungkan mereka kembali.
Seandainya aku benar-benar jadi ibu kelak, aku berharap aku bisa mengajari mereka untuk menangis dengan tenang. Lalu, mengajari mereka untuk berani meyelamatkan diri ketika merasa bahaya. Aku berharap aku akan ingat untuk mengajari mereka mencintai diri mereka sendiri bahkan ketika tidak ada satu makhluk hiduppun yang menunjukannya pada mereka. Aku juga perharap aku bisa mencontohkan bagaimana aku selamat dari hari-hariku ketika aku ingin mengakhirinya. Terakhir, aku sangat sangat berharap untuk bisa membuat mereka paham bahwa tidak apa-apa kalah dari apapun, asal kita tetap mencoba untuk berjalan satu langkah lagi, meskipun kemajuan itu kita lakukan bulan depan, tahun depan, atau mungkin satu dekade lagi.
Jika nanti aku memang jadi ibu, aku berharap aku akan bisa memberitahu diriku sendiri untuk tidak membebani anakku dengan ekspektasi. tapi tidak juga membiarkan mereka merasa tidak berharga dan tidak di anggap. Sekalipun mereka hidup tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan, semoga aku bisa menerima mereka seperti yang telah aku harapkan sebelumnya dan aku mencintai mereka sebagai diriku sendiri. Karena aku tau, apa yang ku harapkan adalah hal-hal yang tidak pernah aku dapatkan dari ibuku dan aku sudah menyerah secara keseluruhan soal yang satu ini.
Paling tidak nanti, ketika aku memang benar-benar jadi ibu, aku berharap anakku tidak akan meregang nyawa sendirian di tempat tidurnya, sedangkan aku tertidur pulas tanpa sedikitpun sadar bahwa ia kesakitan, sementara ia tidur di kamar yang sama denganku karna kamarnya rusak di makan rayap.
Begitulah pemikiranku hari ini.
Oh! Ibuku bertanya kepadaku kemarin, apakah aku akan memperlakukannya dengan baik ketika ia seumuran nenekku. Lalu aku menjawabnya dengan tertawa. Karna jika aku sampaikan, aku yang nantinya akan berkelahi dengan diriku sendiri, kemudian menangis dan kalah. sedangkan ibuku, akan menang seperti selama 26 tahun ini.
Entah kenapa belakangan ini bertarung dengan jiwa-jiwa di dalam sini semakin melelahkan. Aku juga heran kenapa mereka tidak mau membantuku untuk bersikap waras dalam waktu yang agak panjang. Tapi paling tidak, kali ini mereka sepaham dengan pikiran yang terbentuk di kepalaku. Kali ini, tiba-tiba, aku terbesit sesuatu yang sudah lama sekali tidak mampir ke pikiranku, yaitu mampukah aku nanti jadi ibu?
Aku pernah memutuskan untuk menyerah soal ini. Rasanya tidak mungkin. Tidak terbayangkan olehku bagaimana seorang aku, perempuan yang jarang menang dalam perkelahian dengan diriya sendiri, mengemban tugas mulia seorang ibu. Tidak mungkin terjadi. Tapi kemudian seiring berjalannya waktu, aku berpikir kembali tentang kemungkinan tersebut, sebelum akhirnya cenderung kembali menyerah pada keputusan pertamaku.
Namun aku sempat berpikir, jika nanti aku menjadi ibu, aku berharap aku akan mampu mengajari buah hatiku menerima banyak 'gapapa' sejak dini pada kehidupannya. Kemudian, jika nanti mereka mewarisi ketidakstabilan mentalku, aku berharap aku akan jadi manusia pertama yang mereka cari ketika mereka sadar akan hal itu. Aku berharap entah diagnosa pertama dari dokter atau mereka menyadarinya sendiri, aku akan siap ketika mereka ketakutan atas bagaimana mereka harus bersikap dalam menerimanya. Lalu, ketika mereka terbanting dan kalah dalam perkelahian mental mereka sendiri, aku berharap mampu untuk menjadi tempat mereka menyembunyikan diri dan bersiap untuk bangkit kembali.Aku tau pertarungan di dalam diri mereka akan terjadi berulang-ulang dan melelahkan, karenanya aku berharap aku akan selalu siap untuk menerima jatuhnya mereka dan melambungkan mereka kembali.
Seandainya aku benar-benar jadi ibu kelak, aku berharap aku bisa mengajari mereka untuk menangis dengan tenang. Lalu, mengajari mereka untuk berani meyelamatkan diri ketika merasa bahaya. Aku berharap aku akan ingat untuk mengajari mereka mencintai diri mereka sendiri bahkan ketika tidak ada satu makhluk hiduppun yang menunjukannya pada mereka. Aku juga perharap aku bisa mencontohkan bagaimana aku selamat dari hari-hariku ketika aku ingin mengakhirinya. Terakhir, aku sangat sangat berharap untuk bisa membuat mereka paham bahwa tidak apa-apa kalah dari apapun, asal kita tetap mencoba untuk berjalan satu langkah lagi, meskipun kemajuan itu kita lakukan bulan depan, tahun depan, atau mungkin satu dekade lagi.
Jika nanti aku memang jadi ibu, aku berharap aku akan bisa memberitahu diriku sendiri untuk tidak membebani anakku dengan ekspektasi. tapi tidak juga membiarkan mereka merasa tidak berharga dan tidak di anggap. Sekalipun mereka hidup tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan, semoga aku bisa menerima mereka seperti yang telah aku harapkan sebelumnya dan aku mencintai mereka sebagai diriku sendiri. Karena aku tau, apa yang ku harapkan adalah hal-hal yang tidak pernah aku dapatkan dari ibuku dan aku sudah menyerah secara keseluruhan soal yang satu ini.
Paling tidak nanti, ketika aku memang benar-benar jadi ibu, aku berharap anakku tidak akan meregang nyawa sendirian di tempat tidurnya, sedangkan aku tertidur pulas tanpa sedikitpun sadar bahwa ia kesakitan, sementara ia tidur di kamar yang sama denganku karna kamarnya rusak di makan rayap.
Begitulah pemikiranku hari ini.
Oh! Ibuku bertanya kepadaku kemarin, apakah aku akan memperlakukannya dengan baik ketika ia seumuran nenekku. Lalu aku menjawabnya dengan tertawa. Karna jika aku sampaikan, aku yang nantinya akan berkelahi dengan diriku sendiri, kemudian menangis dan kalah. sedangkan ibuku, akan menang seperti selama 26 tahun ini.
Komentar
Posting Komentar